Sastra Daerah Buton Mawasangka
PUISI DAN PROSA LAMA DALAM DAERAH
BUTON
1. PUISI LAMA DAERAH BUTON
1) Syair Buton
Dalam syair Kabanti Kanturuna Mohelana (sastra klasik Buton) berikut ini :
Tuamosi yaku kupatindamo,
Ikompona incema euyincana,
Kaapaaka upeelu butuni,
Kumaanaia butuni o kompo,
Motodhikana inuncana qura’ani,
Itumo dhuka nabita akooni,
Apayincana sababuna tanasiy,
Tuamo siy auwalina wolio,
Inda kumondoa kupetula-tulakea,
Sokudhingki auwalina tuasiy,
Toakana akosaro butuni,
Amboresimo pangkati kalangana,
Artinya :
Demikian inilah saya bertanya, Diperut siapa engkau tampak, Karena engkau suka
butuni, Kuartikan butuni mengandung, Yang terdapat dalam Al Qur’an, Disitu pula
Nabi bersabda, Menjadi asal sebab tanah Wolio, Demikian ini awalnya Wolio,
Tidak selesai kuceritakan semua, Sebabnya bernama butuni, Karena menempati
derajat yang tinggi.
2) Pantun Buton (Mawasangka)
(1) Pantun Muda-Mudi
Ambeli-mbeli ne bhau-bhau
Awoha lambu nopotala-tala
Mahingga amate ne kapulu
Sumanomo apooli cewe ma ngadha
Artinya :
Jalan-jalan ke Bau-Bau
Lihat rumah berbaris-baris
Biar mati di ujung keris
Asal dapat cewe yang cantik
(2) Pantun Jenaka
Manu ka’ito nopute untelino
Ane dhofumaa’e nombaka sia’e
Kalambe ka’ito nopute wangkano
Ane nofutaa nokolo sia’e
Artinya :
Ayam hitam putih telurnya
Kalau dimakan enak sekali
Cewe hitam putih giginya
Kalau tetawa kecut sekali
(3) Pantun Orangtua
Kalangkeno gunu kabhaeno watu
Nolangke dhua Kawasana Ompu
Mehingga do’ohi sehewu ta’u
Percuma ane desambaheya’a
(4) Pantun Teka-Teki
Ande opande ondofi kenta
Ondofikanau kenta mongiwa
Ane opande pogau Mawasangka
Fombakanau ma’anano wangka
Artinya :
Kalau kamu pandai mencari ikan dilaut
Tolong carikan si ikan Hiu
Kalau kamu pandai bahasa Mawasangka
Coba artikan kata ‘wangka'
2. PROSA LAMA DAERAH BUTON
1) Sejarah (Tambo) Buton
Buton adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi.
Pada zaman dahulu di daerah ini pernah berdiri kerajaan Buton yang kemudian
berkembang menjadi Kesultanan Buton.
Buton dikenal dalam Sejarah Indonesia karena telah tercatat dalam naskah
Nagarakretagama karya Prapanca pada Tahun 1365 Masehi dengan menyebut Buton
atau Butuni sebagai Negeri (Desa) Keresian atau tempat tinggal para resi dimana
terbentang taman dan didirikan lingga serta saluran air. Rajanya bergelar Yang
Mulia Mahaguru. Nama Pulau Buton juga telah dikenal sejak zaman pemerintahan
Majapahit. Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton.
Cikal bakal negeri Buton untuk menjadi sebuah Kerajaan pertama kali dirintis oleh
kelompok Mia Patamiana (si empat orang) yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo,
Sijawangkati yang oleh sumber lisan mereka berasal dari Semenanjung Tanah
Melayu pada akhir abad ke – 13.
Mereka mulai membangun perkampungan yang dinamakan Wolio (saat ini berada dalam
wilayah Kota Bau-Bau serta membentuk sistem pemerintahan tradisional dengan
menetapkan 4 Limbo (Empat Wilayah Kecil) yaitu Gundu-gundu, Barangkatopa,
Peropa dan Baluwu yang masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang Bonto
sehingga lebih dikenal dengan Patalimbona. Keempat orang Bonto tersebut
disamping sebagai kepala wilayah juga bertugas sebagai pelaksana dalam
mengangkat dan menetapkan seorang Raja. Selain empat Limbo yang disebutkan di
atas, di Buton telah berdiri beberapa kerajaan kecil seperti Tobe-tobe, Kamaru,
Wabula, Todanga dan Batauga. Maka atas jasa Patalimbona, kerajaan-kerajaan
tersebut kemudian bergabung dan membentuk kerajaan baru yaitu kerajaan Buton
dan menetapkan Wa Kaa Kaa (seorang wanita bersuamikan Si Batara seorang turunan
bangsawan Kerajaan Majapahit) menjadi Raja I pada tahun 1332 setelah mendapat
persetujuan dari keempat orang bonto/patalimbona (saat ini hampir sama dengan
lembaga legislatif).
Dalam periodisasi Sejarah Buton telah mencatat dua Fase penting yaitu masa Pemerintahan
Kerajaan sejak tahun 1332 sampai pertengahan abad ke – 16 dengan diperintah
oleh 6 (enam) orang raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa
dan Bulawambona. Kedua raja ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat
kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton. Fase
kedua adalah masa Pemerintahan Kesultanan sejak masuknya agama Islam di
Kerajaan Buton pada tahun 948 Hijriah ( 1542 Masehi ) bersamaan dilantiknya
Laki La Ponto sebagai Sultan Buton I dengan Gelar Sultan Murhum Kaimuddin
Khalifatul Khamis sampai pada Muhammad Falihi Kaimuddin sebagai Sultan Buton ke
– 38 yang berakhir tahun 1960.
Dibidang hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat
pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan
yang memerintah di Buton , 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar
sumpah jabatan dan satu diantaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili
dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai
meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli .
Bidang perekonomian dimana Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil
ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab
dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala
siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif).
Bidang Pertahanan Keamanan ditetapkannya Sistem Pertahanan Rakyat Semesta
dengan falsafah perjuangan yaitu :
“Yinda Yindamo Arata somanamo Karo” (Harta rela dikorbankan demi keselamatan
diri)
“Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu” (Diri rela dikorbankan demi keselamatan
negeri)
“Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara” (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan
pemerintah)
“Yinda Yindamo Sara somanamo Agama” (Pemerintah rela dikorbankan demi
keselamatan agama)
Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata
(Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa,
Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan
kebatinan).
Selain bentuk pertahanan tersebut maka oleh pemerintah kesultanan, juga mulai
membangun benteng dan kubu–kubu pertahanan dalam rangka melindungi keutuhan
masyarakat dan pemerintah dari segala gangguan dan ancaman. Kejayaan masa
Kerajaan/Kesultanan Buton (sejak berdiri tahun 1332 dan berakhir tahun 1960)
berlangsung ± 600 tahun lamanya telah banyak meninggalkan warisan masa lalu
yang sangat gemilang, sampai saat ini masih dapat kita saksikan berupa peninggalan
sejarah, budaya dan arkeologi. Wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri
beberapa daerah kabupaten dan kota yaitu : Kabupaten Buton, Kabupaten Muna,
Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, dan Kota Bau-Bau.
Raja-raja Buton
1. Raja ke I Wa Kaa Kaa 1311
2. Raja ke II Bulawambona
3. Raja ke III Bataraguru
4. Raja ke IV Tua Rade
5. Raja ke V Mulae
6. Raja ke VI Murhum
Sultan-Sultan Buton
1. Sultan ke-1 Murhum dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin
Khalifatul Khamis (1491-1537),
2. Sultan ke-2 La Tumparasi (1545-1552) dengan gelar Sultan
Kaimuddin,
3. Sultan ke-3 La Sangaji (1566-1570) dengan gelar Sultan
Kaimuddin,
4. Sultan ke-4 La Elangi (1578-1615) dengan gelar Sultan
Dayanu Iksanuddin,
5. Sultan ke-5 La Balawo (1617-1619)
6. Sultan ke-6 La Buke (1632-1645)
7. Sultan ke-7 La Saparagau (1645-1646)
8. Sultan ke-8 La Cila (1647-1654)
9. Sultan ke-9 La Awu (1654-1664) dengan gelar Sultan Malik
Sirullah,
10. Sultan ke-10 La Simbata (1664-1669) dengan gelar Sultan
Adilil Rakhiya,
11. Sultan ke-11 La Tangkaraja (1669-1680) dengan gelar
Sultan Kaimuddin,
12. Sultan ke-12 La Tumpamana (1680-1689) dengan gelar Sultan
Zainuddin,
13. Sultan ke-13 La Umati (1689-1697)
14. Sultan ke-14 La Dini (1697-1704) dengan gelar Sultan
Syaifuddin,
15. Sultan ke-15 La Rabaenga (1702)
16. Sultan ke-16 La Sadaha (1704-1709) dengan gelar Sultan
Syamsuddin,
17. Sultan ke-17 La Ibi (1709-1711) dengan gelar Sultan
Nasraruddin,
18. Sultan ke-18 La Tumparasi (1711-712) dengan gelar Sultan
Muluhiruddin Abdul Rasyid,
19. Sultan ke-19 La Ngkarieri (1712-1750) dengan gelar Sultan
Sakiyuddin Duurul Aalam,
20. Sultan ke-20 La Karambau (1750-1752)Sultan Himayatuddin
Ibnu Sultaani Liyaauddin Ismail
21. Sultan ke-21 Hamim (1752-1759) dengan gelar Sultan
Sakiyuddin,
22. Sultan ke-22 La Seha (1759-1760) dengan gelar Sultan
Rafiuddin,
23. Sultan ke-23 La Karambau (1760-1763)Sultan Himayatuddin
Ibnu Sultaani Liyaauddin Ismail
24. Sultan ke-24 La Jampi (1763-1788) dengan gelar Sultan
Kaimuddin,
25. Sultan ke-25
26. Sultan ke-26 La Kaporu (1791-1799) dengan gelar Sultan
Muhuyuddien Abdul Gafur,
27. Sultan ke-27 La Badaru (1799-1822) dengan gelar Sultan
Dayanu Asraruddin.
28. Sultan ke-28 La Dani (1823-1824)
29. Sultan ke-29 Muh. Idrus (1824-1851)
30. Sultan ke-30 Muh. Isa (1851-1861)
31. Sultan ke-31 Muh. Salihi (1871-1886)
32. Sultan ke-32 Muh. Umar (1886-1906)
33. Sultan ke-33 Muh. Hasiki (1906-1911)
34. Sultan ke-34 Muh. Husain (1914)
35. Sultan ke-35 Muh. Ali (1918-1921)
36. Sultan ke-36 Muh. Saifu (1922-1924)
37. Sultan ke-37 Muh. Hamidi (1928-1937)
38. Sultan ke-38 Muh. Falihi (1937-1960)
2) Fabel Landoke-Ndoke Te Manu
Pada zaman dahulu, kera dengan ayam bersahabat karib. Pada suatu hari kera
mengundang sahabatnya untuk pergi melancong. Karena sibuknya mereka
melihat-lihat keindahan alam, mereka lupa petang. Dalam perjalanan, kera merasa
lapar. Karena laparnya itu, kera menangkap kawannya sambil berkata: “aku akan
memakan kamu”. Ayam itu menggelepar-gelepar. Semua bulunya dicabuti oleh kera.
Oleh karena ayam itu kuat, maka terlepaslah ia dari tangan kera, lalu ia lari
mencari sahabatnya yang lain, yakni kepiting.
Ketika bertemu kepiting, ayam menceritakan hal-ikhwal kejadian yang dialaminya
itu kepada sahabatnya. Dengan keheran-heranan, kepiting itu berkata: “kalau
kita mencari kawan, kita harus tahu memilih mana kawan yang setia dan mana yang
tidak. Marilah masuk ke dalam rumah saya ini”.
Masuklah ayam itu ke dalam rumah kepiting sambil ia meminta tolong untuk
mengembalikan bulunya seperti semula. Kepiting itu memandikan kawannya (ayam)
dengan santan. Begitu dibuatnya setiap hari, sehingga hanya beberapa hari saja,
bulu ayam itu tumbuh. Lama kelamaan bulu ayam itu tumbuh dan telah kembali
seperti semula. Ayam itu lalu bertanya kepada kepiting: “bagaimanakah akalnya
untuk membalas dendam kepada kera itu, sedang ia lebih tangkas dari kita”.
Jawab kepiting: “kamu bantu saya membuat perahu dari tanah yang saya keluarkan
dari lubangku. Bilamana sudah selesai, kamu pergi undang kera, kita menyeberang
ke pulau sana yang banyak buah-buahan”.
Bekerjalah mereka berdua membuat perahu dari tanah. Setelah selesai, lalu ayam
pergi mencari sahabatnya, kera. Setelah bertemu, ayam mengundang kera
sahabatnya untuk menyeberang pada sebuah pulau yang banyak buah-buahannya dan
pemandangannya sangat indah.
Kera itu bertanya: “Di manakah kita mendapat perahu untuk menyeberang?” Jawab
ayam: “Nanti saya ajak kawan saya kepiting dan ia ahli di perahu”. Mendengar
itu, kera sangat gembira kerena dipikirnya bahwa kalau mereka tiba di pulau
itu, tentu ia akan puas memanjat dan memakan buah-buahan, sedang kawannya tentu
akan kelaparan karena tidak tahu memanjat.
Segera ayam menemui kepiting, sambil menyiapkan perahu yang pernah mereka buat.
Kemudian memanggil kera. Dengan merasa bangga, kera melompat ke dalam perahu.
Kera tidak mengetahui bahwa ayam dan kepiting sudah bermufakat bahwa kalau di
tengah laut, bilamana ada komando, akan dilaksanakan dengan diam-diam,
supaya perahu bocor dan tenggelam. Maka berangkatlah mereka dengan perasaan
gembira. Tiba di tengah laut, ayam itu bernyanyi-nyanyi. Demikian nyanyiannya:
“Aku lubangi lho!!” Kepiting menjawab pantun temannya: “tunggu sampai dalam
sekali lho!!”
Lalu, kemudian ayam mulai mencontok-contok perahu itu, akhirnya perahu itu
bocor, lalu tenggelam. Setelah perahu tenggelam, kepiting menyelam kedasar laut
dan ayam terbang ke darat. Sial bagi kera yang tidak tahu berenang, sehingga ia
mati lemas di tengah laut.
3) Dongeng Buton Tentang Wa Ndiu-Ndiu
Dahulu kala hiduplah seorang wanita dengan dua orang anaknya, dia hanya tinggal
bertiga karena suaminya telah tiada. Kedua anaknya diberi nama, sang kakak
bernama La Nturungkoleo dan sang adik bernama La Mbata-mbata . Mereka hidup
dalam kemiskinan, dan sangat memprihatinkan, untuk makan sehari-hari begitu
susahnya, akan tetapi namanya seorang ibu tidak ingin melihat anaknya menderita
dan mati kelaparan. Si Ibu berusaha mati-matian untuk membahagiakan kedua
putranya, karena di daerah kami seorang anak laki-laki mempunyai panggilan
khusus yaitu dipanggil dengan awalan La, misalnya La Andi, begitu pula dengan
perempuan dipanggil dengan awalan Wa misalnya Wa Eni.
Suatu hari kedua anaknya merintih ingin makan ikan, dan merengek pada ibunya
untuk mencarikan ikan untuk mereka, maka si Ibu berangkatlah ke laut untuk
mencari ikan, dan kepergiannya itu membuatnya untuk pergi dan tidak kembali
lagi, konon si Ibu telah menjadi seekor duyung, yang dikenal dengan sebutan Wa
Ndiu-ndiu, setiap hari kedua anak itu pergi ke laut menanti ibunya untuk
kembali pada mereka, akan tetapi takdir berkata lain ibunya telah pergi dan
takan pernah kembali, menyesalah kedua anaknya, gara-gara ingin makan ikan
membuat ibunya pergi untuk selamanya, maka tinggalah mereka berdua sebatang
kara di dunia ini.
Setiap kali kedua anak itu ketepi laut, mereka sering bernyanyi untuk menghibur
diri mereka, dan berharap si Ibu mendengarkan dan mau kembali ke daratan,
berikut penggalan lagunya :
“Wa Ina Wa ndiu-ndiu maipo susu andiku, andiku La Mbata-mbata, Wa kaaku La
Nturungkoleo”
(Wahai mamaku si ikan duyung, marilah susuin adikku, adikku La Mbata-mbata,
kakakku La Nturungkoleo)
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari penggalan cerita rakyat di atas, yaitu
kita harus senatiasa berbakti kepada kedua orang tua kita, terutama ibu, yang
telah melahirkan dan merawat kita dengan penuh kasih sayang, dan mensyukuri
segala nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
4) Hikayat Sipanjonga
Dalam hikayat Sipanjonga “Mia Patamia” terdiri atas empat orang: Sipanjonga,
Simalui, Sitanamajo, dan Sijawangkati. Dikisahkan pemimpin kelompok pelayaran
bernama Sipanjonga, seorang hartawan dan dermawan berasal dari Pulau Liyaa di
Johor. Sebelum keberangkatan kelompok itu, Sipanjonga bermimpi didatangi
seorang tua yang menasihatinya agar pergi ke tempat yang lebih baik.
Maka berkata orang tua itu kepada Sipanjonga “hee cucuku, apa juga sudahnya
cucuku tinggal di dalam pulau ini, lebih baik engkau mencari lain tempat yang
lebih baik dari pulau ini. Maka kata Sipanjonga “hee nenekku, bagaimana aku
pergi mencari lain tempat daripada pulau ini. Maka kata orang tua itu “cucuku
buatlah perahu di ujung pulau ini supaya boleh cucuku pergi sekalian dengan
segala keluarga cucuku”.
Kemudian Sipanjonga memerintahkan hamba sahayanya membuat perahu yang diberi
nama “palulang”. Perahu ini segera dimuati sekalian orang beserta harta
sekalian jenis emas, perak, tembaga, suasa, dan permata, intan baiduri,
mutiara, dan lain sebagainya. Keberangkatan Sipanjonga digambarkan demikian:
“Maka layar perahu pun dipasang oranglah merapat kiri kanannya. Maka Sipanjonga
pun naiklah ke palulang serta dengan segala bunyi-bunyian. Itulah adat segala
anak raja-raja yang besar-besar di dalam negeri. Maka kepada hari yang baik dan
saat yang baik maka Sipanjonga pun menyuruh orangnya bongkar sauh, maka orang
pun hadirlah masing-masing dipegangnya. Maka meriam pun pasang oranglah kiri
kanan dan bunyi-bunyiannya dipalu oranglah. Terlalu khidmat bunyinya dan layar
pun dibuka orang, maka angin bertiuplah terlalu keras jalannya palulang itu,
seperti burung rajawali pantasnya. Dengan seketika juga Pulau Liyaa itu lepas
dari pada mata orang banyak”.
Dalam kisah, Sipanjonga terdampar di Pulau Malalang setelah tujuh malam lamanya
kemudian melanjutkan pelayarannya. Sewaktu menunggu itu, Sipanjonga mendengar
suara: “Hee Sipanjonga janganlah engkau berduka cita atas pekerjaanmu karena
engkau melakukan dirimu seperti demikian itu. Kembalilah engkau ke pilangmu,
bukan tempat bagimu pada pulau ini. Hendaklah engkau segera berlayar menuju
matahari. Adalah sebuah pulau besar “Butuni” namanya disebut orang. Disanalah
engkau duduk yang sedia insya Allahu Ta’aala. Kemudian hari itu pula dapat
menjadi sebuah negeri yang besar-besar beribu-ribu orangnya lagi beroleh
‘anak-anak’ seorang laki-laki dan cucumu maha banyak dan anakmu itupun mendapat
seorang ‘perempuan’ didalam buluh gading yaitu menjadi raja didalam negeri itu
lagi anakmu itu kaya kekal kekayaannya datang kepada anak cucumu dengan berkat
orang yang didapat didalam buluh itu”.
Pendaratan rombongan Sipanjonga di Pulau Butun terbagi dalam dua: kelompok yang
dipimpin Sipanjonga dan Simalui di Kalampa, dan kelompok Sitanamajo dan
Sijawangkati di Walalogusi. Mereka mendirikan permukiman di pesisir dan
akhirnya bersatu di Kalampa. Akan tetapi dalam perjalanannya perkampungan itu
sering mendapat serangan perompak. Dikisahkan pula Sijawangkati memasuki ke
pedalaman untuk menebang pohon enau. Rupanya wilayah itu sudah dikuasai seorang
bernama Dungkungcangia. Berkali-kali Sijawangkati menebang pohon itu membuat
Dungkungsangia marah. Ia lalu menebang pohon yang lebih besar dari yang
ditebang Sijawangkati. Melihat hasil tebangannya itu, Sijawangkati menganggap
si penebang pastilah bukan sembarang orang. Iapun lalu mengikat hasil tebangan
itu dengan seutas tali.
Kini Dungkungcangia yang mengira pelakunya manusia luar biasa. Tibalah mereka
bertemu dan saling mengadu kesaktiannya. Tidak ada yang kalah dan menang.
Mereka sepakat untuk berdamai dan membentuk ikatan persaudaraan. Kemudian
diketahui Dungkungcangia adalah raja Tobe-Tobe. Ia menyerahkan wilayahnya masuk
ke dalam kerajaan Butun. Mitos ini menggambarkan proses adapti dan integratif
antara pendatang dan orang yang “lebih dahulu” tinggal di Pulau Butun. Dalam
konteks masyarakat Butun sesungguhnya tidak ada pengertian penduduk “asli”.
Konon Dungkungcangia adalah salah satu panglima pasukan Khubilai Khan yang
tercerai dari induknya sewaktu dipukul mundur oleh Raden Wijaya pendiri
kerajaan Majapahit. Memang dikenal ada tiga orang panglima dalam pasukan
Khubilai Khan yang menyerang Jawa pada abad ke-13: Shihpi, Iheh-mi-shih, dan
Kau Hsing. Entah mana yang kemudian dikenal sebagai Dungkungcangia.
Menurut tradisi lokal pula disebutkan Dungkungcangia terdampar di pantai timur
Butun. Sewaktu melakukan penelitian lapangan awal Agustus 1995, penulis masih
dapat melihat kerangka perahu yang dipercaya penduduk Desa Wabula, sebagai
perahu yang terdampar dahulu digunakan Dungkungcangia. Mereka masih merawat
sebagai barang keramat. Menarik nama Wabula untuk desa di tepian pantai itu.
Dalam bahasa Wolio, Wa (Ode) menunjuk pada jenis perempuan, La (Ode) = untuk
laki-laki), sedangkan bula artinya putih. Dikisahkan pula bahwa ada seorang
perempuan Cina yang turut dalam penumpang perahu yang terdampar itu. Menurut
keyakinan setempat, penduduk di sana adalah keturunan dari “si perempuan putih”
itu.
Tentang seorang manusia yang muncul dari “buluh (bambu)”, merupakan kisah lokal
dari Muna. Adalah mitos terbentuknya perkampungan pertama bernama Wamelai,
sekarang bagian dari Kampung Tongkuno. Komunitas ini hidup berburu dan membuka
ladang. Sistem kemasyarakatannya dipimpin oleh seorang yang disebut mieno.
Sewaktu sekelompok orang mencari bambu untuk membuat rumah besar untuk mieno,
terjadilah suatu peristiwa. Ketika seorang mengayunkan parang menebang bambu
maka terdengarlah suara “aduh kakiku” lalu ketika diayunkan ke atas sedikit
terdengar lagi “aduh pinggangku” dan ketika sampai di bagian atas terdengar
lagi “aduh kepalaku”. Maka dibawalah bambu itu ke Wamelai dan dijaga dengan
hati-hati.
Setelah beberapa hari terdamparlah sebuah palangga di pantai yang berisi
seorang perempuan. Ia adalah anak raja Luwu yang sengaja dikirim ke timur
karena belum juga mendapat jodoh. Ia diberi nama Sangke Palangga dan
dipertemukan dengan bambu ‘ajaib’ itu. Maka terdengarlah suara dari bambu:
“inilah isteri saya”, dan dijawabnya “saya datang memang untuk tuan”. Dari
bambu keluarlah seorang laki-laki yang kemudian dikenal sebagai Beteno ne
Tombula. Dari pasangan inilah yang menurunkan penduduk Muna. Mitos semacam ini
terdapat pula yaitu munculnya Wa Kaa Kaa seorang perempuan yang kemudian
menjadi raja perempuan Butun.
Salah satu fungsi mitos memang adalah sebagai faktor integratif atau pembentuk
solidaritas masyarakat. Begitulah ketika Sipanjonga berkawin dengan Sabanang,
saudara perempuan Simalui, melahirkan anak laki-laki bernama Betoambari (nama
bandara di Bau-Bau sekarang). Betoambari dikenal sebagai tokoh penting kerajaan
Butun. Ia pula yang mengawinkan Wa Kaa Kaa, adalah puteri Batara Guru yang
bermukim di langit, dengan Sibatara seorang keturunan dari Majapahit (Vonk
1937:20). Alur ceritera memang tidak usah harus dirunut dengan logis yang utama
adalah bagaimana pembenaran dan legitimasi bagi sebuah tatanan sosial-politik
hendak dibangun. Maka begitu pula ketika mitos dari “dunia Bugis” yang lain pun
berkaitan dengan mitos-mitos di atas dalam uraian di bawah ini. Mengenai
asal-usul penduduk, dikenal pula adanya mitos dari Luwu yang dianggap merupakan
“the cradle of civilization” di Sulawesi Selatan. Dilihat dari perspektif Luwu,
Butun dan Muna merupakan daerah “pinggiran”. Asal-usul penduduk kesultanan
berasal dari kedua pulau itu, seperti di bawah ini:
“Dahulu di sini adalah air. Sampai pada suatu hari berlayarlah sebuah perahu
mengarungi laut itu, yang ditumpangi seorang laki-laki bernama “SAWERIGADI”.
Perahunya terdampar. Sawerigadi adalah anak raja Luwu dan oleh ibunya
diperintahkan berkeliling dunia dengan membawa “ayam kuning”. Ia dianggap
sebagai “orang mulia”, seorang yang menempati strata tinggi. Tempat
terdamparnya perahu itu pada satu tanah besar di tengah laut, yang kemudian
menjadi Pulau Muna. Juga diketahui gunung tempat perahu terdampar masih ada
bernama “Gunung Bakutara” dan terletak di dekat Kota Muna dahulu. Di gunung itu
masih tegak batu berbentuk perahu. Dari tempatnya terdampar, Sawerigadi
berjalan menuju daratan ke Wisenekontu, dekat kampung Tanjung Batu sekarang,
dari sana ia lalu kembali ke negerinya. (Wisenekontu berati “menghadap ke
batu”). Raja Luwu kemudian mengirimkan sejumlah orang-orangnya pergi melihat
perahu Sawerigadi. Sebagian orang-orang itu tetap tinggal dan merekalah
penduduk pertama Muna”
5) Legenda Pantai Kataana Di Buton
Suatu ketika beberapa remaja putri sedang menikmati permadian disebuah pantai
di kampung Wabagere. Mereka sangat menikmati suasana tersebut dengan riang
sambil menanti datangnya senja disore hari, seolah hari-hari yang mereka lewati
begitu indah dan menyenangkan, maklum mereka adalah putri-putri dari bangsawan
kerajaan Buton. Diantara mereka adalah seorang putri bernama Wa Katanaa yang
memiliki paras yang cantik dan ayu. Wa Katanaa menjadi primadona dikalangan
mereka dan terkadang teman-temannya iri atas kecantikan wajahnya.
Waktu menjelang sore, dan pengawal-pengawal putri bangsawan tersebut mulai
berdatangan untuk menjemput mereka, namun mereka seolah tidak mau
beranjak dari tempat permandiannya. Mereka terus saja asyik menikmati suasana
pantai yang sejuk dengan hantaman ombak yang begitu lembut menyentuh tubuh
mereka.
Lalu datanglah pemimpim dari pengawal tersebut yang juga seorang Bangsawan
hendak membujuk mereka agar segera pulang. Rupanya putri-putri tersebut sejak
semula memang sedang menanti kedatangan priaituyang juga memiliki wajah yang
tampan dan juga santun.
Maka berkatalah pemimpin pengawal tersebut kepada mereka. “ wahai.. tuan-tuan
putri, hendaklah kalian beranjak dari situ sebab hari telah menjelang sore dan
sebentar lagi gelap, dinginnya air akan menembus tulang
kalianhinggaakhirnyakalian bisa sakit, dan apabila itu terjadi maka tuan-tuan
putri tidak akan lagi menikmati hari-hari yang menyenangkan seperti saat ini..”
keadaan menjadi sunyi, namun putri-putri tersebut belum juga mau beranjak dari
tempat mandinya.
Mereka rupanya diam-diam mengagumi pria tersebut dengan ketampanan dan
kelembutan suaranya. Mereka menggoda, mereka ingin mendengar pria itu berusaha
membujuk mereka sekali lagi, namun tiba-tiba sesuatu terjadi, salah seorang
dari mereka tanpa sengaja buang angin (kentut) akibat terlalu lama berendam
dalam air, maka suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh. Semua tertawa
tanpa terkecuali termasuk pemimpin pengawal tersebut yang sedikit agak
tersinggung. Seorang pengawal yang tidak tahan atas kejadian ituspontan
bertanya siapa gerangan diantara wanita-wanita cantik itu memiliki kentut yang
begitu bau.
Mendengar celoteh salah satu pengawal atas kejadian memalukan tersebut, maka
spontan mereka saling tunjuk dan saling membantahhingga mata semua tertuju pada
sosok Wa Katanaa. Karena merasa malu terutama pada pria bangsawan yang menjadi
pemimpin pangawal tersebut, maka dengan meyakinkan Wa Katanaamembantah tuduhan
teman-temannya sambil bersumpah “wahai dengarkanlah sekalian, sesungguhnya
bukanlah saya yang melakukan perbuatan memalukan tersebut, dan jika itu
terjadi, maka saya lebih baik menjadi batu di pantai ini daripada ikut serta
bersama kalian”. Mendengar ucapan Wa Katanaa, maka pria bangsawan tersebut
kemudian berkata “Baiklah, lupakanlah, anggaplah kejadian tadi tidak pernah
terjadi, maka segeralah kalian berkemas sebab hari sudah hampir gelap, ”. Maka
putri-putri bangsawan tersebut satu persatu kemudian beranjak dari
permandiannya dan menuju kedarat dengan wajah yang berseri-seri. Namun diantara
mereka cuma Wa Katanaa yang belum juga beranjak dari tepi pantai. Melihat ia
masih disitu,maka Pria Bangsawan itu kemudian kembali membujuk Wa Katanaa untuk
segera meninggalkan tempat permadiannya, namun rupanya itu membuat teman-teman
yang lainnya menjadi cemburu, lalu mereka memaksa bangsawan tersebut bersama
beberapa pengawalnya untuk menemani mereka pulang dan meninggalkan Wa Katanaa
bersama sebagian pengawalnya yang lain.
WaKatanaa belum juga bisa beranjak dari bibir pantai, Kakinya seolah-olah menjadi
keram dan merasa kesulitan untuk beranjak dari tempatnya disebabkan pasir
pantai yang menutupi sampai mata kakinya. Lalu para pengawal yang bersama Wa
Katanaa mencoba untuk membantu mengangkat sang putri bangsawan tersebut dari
tepi pantai, namun ternyata sia-sia. Semakin berusaha ditarik, maka makin
kuatlah dan semakin tinggi pasir itu menutup kakinya. Meskipun sudah berusaha
dengan sekuat tenaga dan menggunakan gagang tombak untuk mencukil pasir yang
menutupi kaki waKatanaa,namun tetap saja tidak berhasil. Melihat hari sudah
semakin gelap serta kejadian mengerikan yang dialami Wa Katanaa, maka para
pengawal itu lari meninggalkan sang putriuntuk mencari pertolongan dan hendak
menyampaikan peristiwa yang baru saja di alami oleh Wa Katanaa kepada penduduk
setempat.
Dalam kesendiriannya wa Katanaa mencoba berteriak meminta pertolongan namun
suara itu semakin lama semakin kecil, lalu dia mengingat apa yang
sebelumnya dia ucapkan, dia rela berbohong untuk menghindari malu dari orang
yang dicintainya, dia sadar atas kebohongan dan sumpah serapahnya, dia
menyesali perbuatannya, dia menangisi perbuatannya, namun suara itu tidak bisa
lagi keluar dari mulutnya, terlambat sudah, sebagian badannya telah berubah
hingga akhirnya seluruh tubuhnya menjadi batu.
Keesokan paginya, masyarakat berdatangan untuk melihat bagaimana nasib Wa
Katanaa, mereka tidak menemukan sesuatu kecuali sebongkah batu seukuran manusia
yang berada ditepi pantai. Dan sejak saat itu, pantai tersebut dinamakan pantai
Katanaa.
6) Sage Sultan Murhum Buton
Karena usia sudah uzur Raja Buton ke V yaitu Raja Mulae sangat menyadari
kemampuan dalam mengendalikan roda pemerintahan mulai nampak menurun sehingga
meminta pertimbangan syara Buton (Siolimbona) untuk menyerahkan jabatan Raja
kepada Murhum dengan pertimbangan bahwa Murhum telah memberikan jasa dan
pengabdiannya dalam menyelamatkan Kerajaan Buton dari berbagai gangguan,
ancaman, juga didasari pribadi Murhum menunjukan sifat-sifat seorang pemimpin,
jujur, bijaksana dan tegas mengambil keputusan, disamping sebagai anak menantu
Raja Mulae.
Usul Raja Mulae mendapatkan respon positif dan suara bulat dari anggota
legislatif Dewan Siolimbona untuk menetapkan Murhum sebagai Raja Buton yang ke
VI. Pada awal masa pemerintahan Raja Murhum mengangkat Manjawari sebagai Sapati
pertama dan Batambu sebagai Kenepulu pertama kedua orang yang disebutkan
tersebut adalah putra asli Selayar dan Wajo Sulawesi Selatan, atas jasa
keduanya membantu perlawanan Kerajaan Buton menghadapi bajak laut sehingga
diberikan jabatan. Menurut catatan sejarah Buton Murhum menjadi Raja selama 20
tahun dimulai sejak akhir tahun 1538 Masehi.
Ketika memasuki tahun ke 4 menjadi Raja, ia pun kedatangan tamu, seorang
muballig dari Johor ( semenanujung Tanah Melayu ) yaitu Syekh Abdul Wahid Bin
Sulaiman. Dan dari padanya ia mengukuhkan keislamannya sekaligus juga
memperoleh pengakuan sebagai Raja Islam dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin
pada tahun 1948 Hijriah atau tahun 1542 Masehi. Dua puluh tahun kemudian
sesudah menjadi Raja tepatnya pada tahun 1558 Sultan Murhum Kaimuddin
memperoleh pengakuan dan pengukuhan kembali dari Sultan Rum ( Turki ) sebagai
Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis Dan Kerajaan Buton berubah status
menjadi Pemerintahan Kesultanan Islam.
Peristiwa tersebut menjadi momentum sejarah mulai membangun Pemerintahan
Kesultanan Buton atas sendi-sendi Islam di Bawah bimbingan Syekh Abdul Wahid
selaku penasehat Kesultanan pada saat itu. Antara lain dikukuhkannya Falsafah
perjuangan hidup bermasyarakat yaitu Yinda-yindamo arataa somanamo karo,
yinda-yindamo karo somanamo lipu, yinda-yindamo lipu somanamo agama (tiada
meniadalah harta demi diri, tiada menidalah diri demi negeri, tiada meniadalah
negeri demi agama ).
Dipuncak pemerintahannya Sultan Murhum telah menjadikan tokoh pemimpin dari 3
(tiga) Kerajaan yaitu Kerajaan Konawe, Wuna, Buton dan mempunyai wilayah
teritorial yang sangat luas meliputi kepulauan Banggai, Buton, Muna, Kabaena,
Tiworo, Kepulauan Tukang Besi, Wawonii, Marunene (Rumbia) pada pertengahan abad
ke XVI.
Masih banyak prestasi lain beliau yang tidak dapat diungkapkan semuanya disini
dan setelah 46 tahun memimpin Kesultanan Buton (baik sebagai Raja ke VI dan
Sultan I), tepat pada tahun hijrat 991 bersetuju dengan tahun 1584 M
Lakilaponto Murhum Sultan Kaimuddin perpulang kerahmatullah dalam usia kurang
lebih 90 tahun, dimakamkan di Bukit Lelemangura dalam kompleks Benteng Wolio
Kota Bau – Bau.
Sebagai akibat dari rasa cinta terhadap negeri dan tanah air serta rakyatnya,
lahirlah rasa pengabdian yang tinggi pada seseorang yang patriotik. Tetapi
seseorang yang memiliki rasa pengabdian yang dibuktikan dalam kenyataan
kehidupan masyarakat, otomatis harus memiliki aspek-aspek kebudayaan yang lain
seperti rasa kesabaran, rasa ketabahan (keuletan, ketekunan, kemauan yang
keras), keberanian (berani berkorban dan tulus ikhlas, ketaatan), rasa optimis
untuk mencapai kemenangan (kejayaan) rasa cinta terhadapt kebenaran dan
keadilan, serta mempunyai rasa kerinduan terhadap kemakmuran dan kedamaian,
didalam pengabdian terhadap Negeri dan rakyatnya seorang patriotik otomatis
pula dipandang oleh rakyat dan masyarakatnya sebagai bapak, pemimpin, sehingga
patriot itu juga pelindung, tokoh, pelopor dan pahlawan.
Nilai patriotik seseorang adalah nilai-nilai kebapaan, kepemimpinan yang
diliputi oleh rasa cinta terhadap tanah air, negeri dan bangsa serta rakyatnya
dan mempunyai rasa dedikasi yang tinggi dan berkemauan keras untuk membawa
rakyat dan negerinya kealam bahagia, tentram dan damai, adil dan makmur, dan
sejahtera. Jika Murhum dalam sejarahnya, ternyata adalah seorang patriotik,
maka ia adalah :
1. Seorang pemimpin, seorang bapak, baik sebagai raja dalam pemerintahan,
maupun seorang panglima perang, yang membawa negeri dan rakyatnya kepada
persatuan dan kesatuan, dan tentram dari gangguan pengacau dari luar.
2. Seseorang yang mempunyai pandangan kearah masa depan yang gilang gemilang
bagi negeri dan rakyatnya untuk hidup bahagia tentram dan damai yang telah
dinyatakan, dihasilkan dan dimanfaatkan oleh rakyat dan negerinya, sehingga
beliau dapat disebut sebagai seorang yang idialis-realis-fragmatis (ingat
suasana pemerintahan beliau sebagai raja sebagai gelar Sultan).
3. Seorang yang sangat kasih dan cinta terhadap negeri negeri dan
rakyatnya serta norma adat dan agama, melibihi kasih dan cintanya terhadap diri
dan keluarganya.
4. Sudah sepatutnya Sultan Murhum Kaimuddin dapatlah dijadikan contoh dan
suritauladan pimpinan masa depan dan oleh karenanya nama tersebut dapat
dijadikan sebagai salah satu nama apakah negeri, apakah pelabuhan laut, apakah
pelabuhan udara atau yang lainnya dan pasti nama tersebut tetap terpatri
didalam perjalanan sejarah dan pembangunan Sulawesi Tenggara secara
keseluruhan.